hangat…hangat,,,hangat..obrolan masyarakat BALI saat ini termasuk saya sendiri, prtanyaanny sebenarnya hanya satu..
KENAPA PENGERUPUKAN HARUS DITIADAKAN KARNA PEMILU?????
sebenarnya saya cuma denger aja berita dari temen-temen SEKBERHOLIC , mungkin belum semua masyarakat BALI pada umumnya tahu tentang masalah ini, namu diharapkan bagi masyarakat BALI yan biasanya hanya terdiam untuk dapat bicara. karena menurut saya ini adalah hal yang sangat mendasar dari kehidupan kita masyarakat BALI pada umumnya,.kenapa seperti itu?? ini masalah kebebasan beragama dan adat istiadat kita masyarakat Bali, seluruh dunia juga tahu akan ikatan adat dan istiadat kita yang sangat kuat teman..kenapa dengan alasan pemilu hal seperti ini harus membatasi adat istiadat kita brow..ini beberapa rentetan upacara HR NYEPI..
1. Tawur (Pecaruan), Pengrupukan, dan Melasti
Sehari sebelum Nyepi, yaitu pada “panglong ping 14 sasih kesanga”, umat Hindu melaksanakan upacara Buta Yadnya di perempatan jalan dan lingkungan rumah masing-masing, dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru (semacam sesajian) menurut kemampuannya. Buta Yadnya itu masing-masing bernama Pañca Sata (kecil), Pañca Sanak (sedang), dan Tawur Agung (besar). Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisuda Buta Kala, dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari nasi manca (lima) warna berjumlah 9 tanding/paket beserta lauk pauknya, seperti ayam brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. Buta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Buta Raja, Buta Kala dan Batara Kala, dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu umat. serta pawaai ogoh-ogoh yang ditujukan untuk membuatkan suatu moment bagi kala, agar keseimbangan yang kita harapkan bisa tercapai.
ogoh – ogoh di buatlah menyerupai bhuta kala yang dimaksud agar bhuta kala yang ada di rumah dan di seluruh desa keluar dan menepati ogoh-ogoh tsb. kemudian ogoh-ogoh itu dibakar/diprelina dan di hanyutkan kepante, agar pada saat hari raya nyepi bhuta kala yang sudah disomia tidak mengganggu umat yang melaksanakan brata penyepian.
Mecaru diikuti oleh upacara pengerupukan, yaitu menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Buta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar. Khusus di Bali, pengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Buta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Buta Kala dari lingkungan sekitar.
Tahap terakhir adalah melasti, yaitu menghanyutkan segala leteh (kotoran) ke laut, serta menyucikan pretima. Upacara ini dilakukan di laut, karena laut dianggap sebagai sumber amerta. Selambat-lambatnya pada tilem sore, melasti harus selesai.
2. Nyepi
Keesokan harinya, yaitu pada panglong ping 15 (atau tilem Kesanga), tibalah Hari Raya Nyepi sesungguhnya. Pada hari ini dilakukan puasa Nyepi yang disebut “Catur Brata” Penyepian dan terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Brata ini dilakukan sejak sebelum matahari terbit. Menurut umat Hindu, segala hal yang bersifat peralihan, selalu didahului dengan perlambang gelap. Misalnya seorang bayi yang akan beralih menjadi anak-anak (1 oton/6 bulan), lambang ini diwujudkan dengan ‘matekep guwungan’ (ditutup sangkar ayam). Wanita yang beralih dari masa kanak-kanak ke dewasa (Ngeraja Sewala), upacaranya didahului dengan ngekep (dipingit). Demikianlah untuk masa baru, ditempuh secara baru lahir, yaitu benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Untuk memulai hidup dalam caka/tahun baru pun, dasar ini dipergunakan, sehingga ada masa amati geni.
Intisari dari perlambang-perlambang lahir itu (amati geni), menurut lontar “Sundari Gama” adalah “memutihbersihkan hati sanubari”, yang merupakan kewajiban bagi umat Hindu.
- Tiap orang berilmu (sang wruhing tattwa jñana) melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga ( menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin).
Semua itu menjadi keharusan bagi umat Hindu agar memiliki kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan di tahun yang baru. Kebiasaan merayakan hari raya dengan berfoya-foya, berjudi, mabuk-mabukan adalah sesuatu kebiasaan yang keliru dan mesti diubah.
3. Ngembak Geni (Ngembak Api)
Rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Baru Saka adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada tanggal “ping pisan (1) sasih kedasa (X)”. Pada hari inilah Tahun Baru Saka tersebut dimulai. Umat Hindu bersilaturahmi dengan keluarga besar dan tetangga, saling maaf memaafkan (ksama) satu sama lain. Dengan suasana baru, kehidupan baru akan dimulai dengan hati putih bersih. Jadi kalau tahun masehi berakhir tiap tanggal 31 Desember dan tahun barunya dimulai 1 Januari, maka tahun Çaka berakhir pada “panglong ping limolas (15) sasih kedasa (X)”, dan tahun barunya dimulai tanggal 1 sasih kedasa (X).
nah dari penjelasan diatas mungkin kita bisa menyimpilkan akan pentingnya rentetan enyepian buat kita masyarakat HINDU dibali pada khususnya..dimana letak wibawa pecalang yang kita miliki seandainya kalo hanya karna masalah pawai ogoh-ogoh ditakutkan terjadi kerusuhan ato apalah itu..kan pawai bisa dibatasi sampai batas banjar masing-masing aja,..jadi tidak harus menghilangkan makna dan rentetan upacara itu…
Wake up ballinese people…





mungkin pemimpin kita takut ogoh ogoh membuat gesekan -gesekan politik. Disamakan kayak gesekan -gesekan paara elit parpol.
Lebih baik kampanyenya yang ditiadakan karena banyak menimbulkan gesekan…tul ga……
By: dek on February 11, 2009
at 10:20 am
beeetttuuullll…
yah mungkin konsep kampanye yang diatur, sehingga tidak mengganggu HR besar kita..
tentunya juga kita masyarakat BALI harus menyatuka suara menanggapi permasalahan ini..
dek nyen ni???salam kenal yo brow..
By: BaGonK Ajus on February 11, 2009
at 3:02 pm